Kamis, 11 Februari 2016

Wahai Penuntut Ilmu, Jauhilah Sifat Hasad (Dengki/Iri)

.:: Wahai Penuntut Ilmu, Jauhilah Sifat Hasad (Dengki/Iri) ::.



Seorang penuntut Ilmu harus senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dari dalam dirinya. Termasuk menjauhi sifat hasad (dengki/iri).

Hasad (dengki/iri) artinya, membenci datangnya nikmat Allah kepada orang lain. Bahkan semata-mata ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada selainnya.

Pengertian ini sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله , beliau mengatakan, "Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain." [Dinukil dari Kitaabul 'Ilmi, hal. 71].

Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh dengki, karena dengki adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi, dan dapat merusak amal.

Allah melarang seseorang mengharapkan segala apa yang Allah lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lain.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha mengetahui segala sesuatu." [QS. An-Nisa : 32].

Sifat hasad ini memiliki beberapa sebab, namun ada obatnya. Ketahuilah bahwa jika hal ini tumbuh dalam diri anda, maka janganlah meremehkan dan melalaikannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله mengatakan, "Karenanya dikatakan: tidak ada jiwa yang terbebas dari hasad. Namun, orang yang tercela menampakkannya, sedangkan orang yang mulia menyembunyikannya."
[Majmuu' al-Fatawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah (X/124-125)].

Jika salah seorang dari kita melihat kekurangan saudaranya, terutama para penuntut Ilmu, maka segeralah menasihatinya dan mendoakannya, tidak malah mengejek serta mencelanya. Dengan begitu, akan baiklah semua urusan kita.

Delapan Tanda Hasad : [Dinukil dari kitab Ma'aalim fii Thariiq Thalabil 'Ilmi, hal 97-100].
1. Senang dengan kesalahan temannya.
2. Senang dengan ketidakhadiran temannya.
3. Senang dan merasa puas jika temannya dicela.
4. Menjelekkan temannya apabila ditanya tentangnya.
5. Hatinya akan terasa sakit dan dadanya terasa sempit apabila ada pertanyaan dilontarkan kepada orang lain atau temannya ditanya padahal ia ada.
6. Tidak menghargai manfaat atau Ilmu yang dimiliki temannya.
7. Mencoba menyalahkan pembicaraan temannya dan mengkritiknya apabila temannya menjawab.
8. Tidak menisbatkan (menyandarkan) keutamaan dan pelajaran yang ia dapatkan kepada orang yang menunjukkannya.

Dampak Buruk dari Sikap Hasad : [Dinukil dari Kitaabul 'Ilmi, hal. 72-75].
1. Dia membenci apa yang telah Allah tetapkan.
2. Hasad akan memakan kebaikan-kebaikannya sebagaimana api memakan kayu bakar.
3. Sesungguhnya hati orang yang hasad akan merasakan kesedihan, berduka, dan dunia akan terasa sempit baginya.
4. Bahwa di dalam hasad terdapat penyerupaan dengan orang Yahudi.
5. Bagaimana pun kuatnya hasad, ia tidak akan mampu menghilangkan nikmat Allah dari orang lain.
6. Hasad dapat menghilangkan kesempurnaan iman.
Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم ,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه [رواه البخاري ومسلم]
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya, apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
7. Hasad dapat mengakibatkan seseorang lalai dari memohon kepada Allah akan karunia-Nya.

Enam Obat Hasad :
1. Mendoakan teman tanpa sepengetahuannya.
2. Berusaha mencintainya dan menanyakan keadaannya dan keluarganya.
3. Mengunjunginya dan mengakui keutamaannya.
4. Tidak rela dengan ketidakhadiran temannya, ejekan dan celaan yang diarahkan padanya.
5. Mendahulukannya dari pada diri sendiri.
6. Meminta pendapat dan nasihat kepadanya.

Sumber : Buku "Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga" Karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas حفظه الله تعالى hal. 195-201. (dengan perubahan judul)-penj.
____________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar