Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
أكثروا ذكر هاذم اللذات : الموت ,
"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian."
فإنه لم يذكره أحدٌ فِي ضيق من العيش إلا وسعه عليه
Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya.
وَلا ذكره في سعة إلا ضيقها عليه
"Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu."
[HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim. Lihat Shahiih Jamii’ish Shaghiir no. 1222, Shahiihut Targhiib, no. 3333].
'Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab,
أكثرهم للموت ذكرا وأحسَنهم لما بعده استعدادًا، أولئك أكياس
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”
[HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah no. 1384].
Adalah Yazid Ar-Raqasyi رحمه الله berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu?
Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa?
Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya.
Dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. [At-Tadzkirah, hal. 8-9].
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Maka, cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.
__________________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar