Jumat, 12 Februari 2016

Meraih Kemuliaan Dengan Al-Quran



.::
Meraih Kemuliaan Dengan Al-Quran ::.
Al-Quran merupakan Kalamullah / Firman Allah / Perkataan Allah, yang Allah subhaanahu wa ta'ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam melalui perantara Malaikat Jibril 'alaihissalaam sebagai nasihat, obat, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran (Al-Quran) dari Rabb kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." [QS. Yunus : 57].
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah, ”Dengan karunia Allah dan rahmat nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus : 58].
Menjadi sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari Al-Quran, membacanya, dan mentadabburi kandungannya.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari : 5027].
Seorang mukmin yang senantiasa membaca Al-Quran, akan mendapatkan kebaikan yang sangat banyak (dari tiap huruf yang ia baca).
Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan (pahala),
والحسنة بعشر أمثا لها،
dan satu kebaikan itu dilipatgandakan hingga sepuluh kali lipat"
لا أقول الم حرف
"Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf,
ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf." [HR. At- Tirmidzi : 2910].
Orang yang membaca Al-Quran dengan mahir ataupun terbata-bata, keduanya tetap mendapatkan kebaikan.
Ummul mukminin 'Aisyah radhiyallaahu ‘anha meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الماهر بالقرآن مع السَفرة الكرام البررة
“Orang yang mahir (lancar) membaca Al-Quran, maka dia bersama-sama dengan malaikat yang mulia lagi taat,
وَالذى يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
Dan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasakan kesulitan (tatkala membacanya), maka baginya dua pahala” [HR. Muslim : 798].
Dengan Al-Quran, Allah akan mengangkat (meninggikan) derajat suatu kaum.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إنّ الله يرفع بهذا الكتاب أقوامًا ويضع به آخرين
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Quran), dan akan merendahkan derajat kaum yang lain dengan kitab ini pula." [HR. Muslim : 817].
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, "Aku mendengar Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata,
من تعلم القرآن عظمت قيمته
"Barangsiapa yang mempelajari Al-Quran, maka menjadi agunglah kedudukannya." [Lihat Nuzhatul Fudhala : II/734].
Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang Allah muliakan dengan Al-Quran.
Wa billaahittaufiq...
___________________
✏ Akhukum fillah, Ibnu Risun حفظه الله تعالى

Kamis, 11 Februari 2016

Perjalanan Menuju Allah

.:: Perjalanan Menuju Allah ::.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

"Sejak lahir hingga wafat nanti, kita masih terus dalam perjalanan menuju Allah. Kita baru akan turun dari tunggangan ketika hari perjumpaan dengan-Nya tiba. Jalan menuju Rabb Yang Mahakuasa sudah begitu jelas bagi hamba. Namun kekeruhan hati membuat mereka tersesat di jalan kebinasaan. Karena itu, tetaplah fokus menuju Allah dan perbanyaklah perbekalan untuk menghadap-Nya."
____________
✏ Akhukum fillah, Ibnu Risun حفظه الله تعالى

Di antara Akhlak Orang Beriman Menjaga Ucapannya



Doa Bertaubat dari Riya'


Wahai Penuntut Ilmu, Jauhilah Sifat Hasad (Dengki/Iri)

.:: Wahai Penuntut Ilmu, Jauhilah Sifat Hasad (Dengki/Iri) ::.



Seorang penuntut Ilmu harus senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dari dalam dirinya. Termasuk menjauhi sifat hasad (dengki/iri).

Hasad (dengki/iri) artinya, membenci datangnya nikmat Allah kepada orang lain. Bahkan semata-mata ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada selainnya.

Pengertian ini sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله , beliau mengatakan, "Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain." [Dinukil dari Kitaabul 'Ilmi, hal. 71].

Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh dengki, karena dengki adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi, dan dapat merusak amal.

Allah melarang seseorang mengharapkan segala apa yang Allah lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lain.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha mengetahui segala sesuatu." [QS. An-Nisa : 32].

Sifat hasad ini memiliki beberapa sebab, namun ada obatnya. Ketahuilah bahwa jika hal ini tumbuh dalam diri anda, maka janganlah meremehkan dan melalaikannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله mengatakan, "Karenanya dikatakan: tidak ada jiwa yang terbebas dari hasad. Namun, orang yang tercela menampakkannya, sedangkan orang yang mulia menyembunyikannya."
[Majmuu' al-Fatawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah (X/124-125)].

Jika salah seorang dari kita melihat kekurangan saudaranya, terutama para penuntut Ilmu, maka segeralah menasihatinya dan mendoakannya, tidak malah mengejek serta mencelanya. Dengan begitu, akan baiklah semua urusan kita.

Delapan Tanda Hasad : [Dinukil dari kitab Ma'aalim fii Thariiq Thalabil 'Ilmi, hal 97-100].
1. Senang dengan kesalahan temannya.
2. Senang dengan ketidakhadiran temannya.
3. Senang dan merasa puas jika temannya dicela.
4. Menjelekkan temannya apabila ditanya tentangnya.
5. Hatinya akan terasa sakit dan dadanya terasa sempit apabila ada pertanyaan dilontarkan kepada orang lain atau temannya ditanya padahal ia ada.
6. Tidak menghargai manfaat atau Ilmu yang dimiliki temannya.
7. Mencoba menyalahkan pembicaraan temannya dan mengkritiknya apabila temannya menjawab.
8. Tidak menisbatkan (menyandarkan) keutamaan dan pelajaran yang ia dapatkan kepada orang yang menunjukkannya.

Dampak Buruk dari Sikap Hasad : [Dinukil dari Kitaabul 'Ilmi, hal. 72-75].
1. Dia membenci apa yang telah Allah tetapkan.
2. Hasad akan memakan kebaikan-kebaikannya sebagaimana api memakan kayu bakar.
3. Sesungguhnya hati orang yang hasad akan merasakan kesedihan, berduka, dan dunia akan terasa sempit baginya.
4. Bahwa di dalam hasad terdapat penyerupaan dengan orang Yahudi.
5. Bagaimana pun kuatnya hasad, ia tidak akan mampu menghilangkan nikmat Allah dari orang lain.
6. Hasad dapat menghilangkan kesempurnaan iman.
Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم ,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه [رواه البخاري ومسلم]
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya, apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
7. Hasad dapat mengakibatkan seseorang lalai dari memohon kepada Allah akan karunia-Nya.

Enam Obat Hasad :
1. Mendoakan teman tanpa sepengetahuannya.
2. Berusaha mencintainya dan menanyakan keadaannya dan keluarganya.
3. Mengunjunginya dan mengakui keutamaannya.
4. Tidak rela dengan ketidakhadiran temannya, ejekan dan celaan yang diarahkan padanya.
5. Mendahulukannya dari pada diri sendiri.
6. Meminta pendapat dan nasihat kepadanya.

Sumber : Buku "Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga" Karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas حفظه الله تعالى hal. 195-201. (dengan perubahan judul)-penj.
____________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Anda Galau? Obatilah Dengan Memperbanyak Dzikir Kepada Allah

.:: Anda Galau? Obatilah Dengan Memperbanyak Dzikir Kepada Allah ::.

Anda sering merasa galau?
Hati anda sering gundah?
Perasaan anda selalu gelisah?

Apa yang biasanya anda lakukan?
Mendengarkan musik? Hang out? Pergi ke bioskop? Atau pergi mencari tempat hiburan lainnya???

Pernahkah anda mencoba menghilangkan perasaan itu dengan berdzikir kepada Allah?

Coba...
Mulai saat ini, bila anda merasa galau, gundah, gelisah, segeralah berdzikir kepada Allah.
Karena dengan berdzikir kepada Allah, niscaya hati akan menjadi tenteram.

Siapa yang memberikan resep untuk menghilangkan rasa galau, gundah, gelisah itu?
Dia adalah Dzat Yang Maha Mengetahui isi hati hamba-hamba-Nya, yaitu Allah سبحانه وتعالى

Dia (Allah) سبحانه وتعالى berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗأَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, niscaya hati akan menjadi tenteram." [QS. Ar-Ra'du : 28].

Ketahuilah bahwa lisan Nabi kita, Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak pernah berhenti berdzikir.

Ummul mukminin 'Aisyah رضي الله عنها berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

"Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم selalu mengingat Allah dalam setiap keadaannya." [HR. Muslim 373, Abu Dawud 18, At-Tirmidzi 3384, dan selainnya].

Dzikir merupakan ibadah lisan yang memiliki ketergantungan dengan hati dan fikiran. Dan ibadah ini memiliki keutamaan yang sangat banyak.

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada orang mukmin untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kepada Allah, dengan mengingat sebanyak-banyaknya." [QS. Al-Ahzab : 41]

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

"Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [QS. Al-Ahzab : 42].

Diriwayatkan dari Abu Darda’ رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَلاَ أُُنَبِّئُكُمْ بِخَيرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ

"Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Rabb kalian, dan dapat mengangkat derajat kalian,

وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ ؟

"Dan lebih baik bagi kalian dari pada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian dari pada bertemu dengan musuh kalian lantas kalian memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?"

قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ !

Para sahabat yang hadir berkata, 'Mau wahai Rasulullah!'

قَالَ : (( ذِكْرُاللهِ تَعَالَى))

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Berdzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.” [HR. At-Tirmidzi 3377, Ibnu Majah 3790, dan Al-Hakim I/ 496, dari Sahabat Abu Darda’ رضي الله عنه Lafazh hadits ini lafazh At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi].

Berikut ini di antara lafadz-lafadz dzikir yang Nabi صلى الله عليه وسلم ajarkan dan bisa untuk kita amalkan setiap hari setiap saat :

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Barangsiapa membaca, سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Latin : Subhaanallaahi wa Bihamdihi
(Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya),
Dalam sehari 100x, maka kesalahan-kesalhannya akan dihapus sekalipun sebanyak buih dilautan." [HR. Al-Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2071].

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, namun (pahalanya) berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah), yaitu :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Latin : Subhaanallaahi wa Bihamdihi, Subhaanallaahil 'Adzhiimi
(Maha Suci Allah dan Segala Puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung)." [HR. Al-Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072].

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Barangsiapa membaca, سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Latin : Subhaanallaahil 'Adzhiimi wa Bihamdihi
(Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya),
Niscaya akan ditanam untuknya sebatang pohon kurma di Surga."
[HR. At-Tirmidzi 5/511 dan Al-Hakim 1/501 dan beliau menshahihkannya, serta disetujui oleh Adz-Dzahabi. Lihat pula Shahiih al-Jaami' 5/531 dan Shahiih at-Tirmidzi 3/160].

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ucapan yang paling dicintai oleh Allah ada empat,

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Latin : Subhaanallaahi wa Alhamdulillaahi wa Laailaaha illallaahu wa Allaahu Akbar
(Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan Allah Maha Besar),
Tidak mengapa bagimu untuk memulai dengan yang mana saja di antara kalimat tersebut." [HR. Muslim 3/1685].

"Amal-amal shalih yang ikhlas dan pahalanya kekal bagi pelakunya selama-lamanya adalah,

سُبْحَانَ اللهِ وَالْـحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Latin : Subhaanallaahi wa Alhamdulillaahi wa Laailaaha illallaahu wa Allaahu Akbar wa Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi
 "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."
[Diriwayatkan oleh Ahmad 513, menurut penomoran Ahmad Syakir, sanadnya shahiih, lihat Majma' az-Zawa'id 1/297. Ibnu Hajar menisbatkannya dalam Bulugh al-Maram dari riwayat Abu Sa'id kepada An-Nasai. Ibnu Hajar berkata, "Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim].

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ ، مَثَلُ الْـحَيِّ وَ الْـمَيِّتِ

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti perbedaan antara orang yang hidup dengan orang yang mati." [HR. Al-Bukhari 6407/Fathul Baari XI/208].

Lalu bagaimana cara Nabi صلى الله عليه وسلم berdzikir?
Nabi صلى الله عليه وسلم menghitung dzikir dengan menggunakan jari tangan beliau.

Sebagaimana diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash رضي الله عنه beliau menceritakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ

“Saya melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghitung dzikir beliau dengan tangannya.” [HR. Ahmad 6498 dan dinilai hasan oleh Syu'aib Al-Arnauth].

Dan diriwayatkan pula dari sahabat wanita, Yusairah رضي الله عنها beliau mengatakan,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpesan kepada kami (para sahabat wanita),

يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنَينَ، عَلَيْكُنَّ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ، وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

“Wahai para wanita mukminah, kalian harus rajin bertasbih, bertahlil, mensucikan nama Allah. Dan janganlah kalian lalai, sehingga melupakan rahmat. Hitunglah dengan jari-jari kalian, karena semua jari itu akan ditanya dan diminta untuk bicara.”
[HR. Ahmad 27089, Abu Daud 1501, Tirmidzi 3583, dan sanadnya dinilai hasan oleh Syuaib Al-Arnauth dan Al-Albani].
____________________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Sepucuk Surat Untuk Sahabat

.:: Sepucuk Surat Untuk Sahabat ::.

Sahabat saya pernah mengirimkan sebuah pesan penuh makna.
Isi pesan itu adalah :

"Sahabat, dengarkanlah sejenak.. Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala..
"Yaa Rabb..
Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"

Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat."

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku,

"Wahai Rabb Kami..
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu."

Sahabatku...
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah mengingatkanmu tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat bersamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya..

Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..
Amiin...
_____________
✒ Ustadz Badru Salam, Lc

Rindu Ku Padamu Wahai Ahlussunnah

.:: Rindu Ku Padamu Wahai Ahlussunnah ::.



Ahlussunnah...
Siapakah sebetulnya dirimu?
Mengapa di luar sana banyak yang menyebut-nyebut namamu?
Yang mengaku bahwa merekalah ahlussunnah itu.

Semudah itu kah meng-klaim diri "Saya Ahlussunnah"?
Bukankah setiap pengakuan harus dilandasi dengan bukti dan konsekuensi?

Yang ku tahu, dirimu adalah sosok yang selalu berusaha mengikuti sunnah Nabimu صلى الله عليه وسلم dan sunnah para sahabatnya رضي الله عنهم أجمعين dalam setiap amalmu.

Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata, ”Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya adalah Ahlussunnah." [Lihat Talbiis al-Ibliis hal. 16].

Sedangkan yang ku lihat, amal mereka sangat berbeda jauh dengan amalmu wahai Ahlussunnah.

Aku jadi heran...
Apa yang membuat mereka mengaku-ngaku bahwa merekalah Ahlussunnah itu?

Apakah karena tingginya kedudukanmu?
Apakah karena mulianya mengikuti sunnah Nabimu?
Ataukah mereka mengaku Ahlussunnah, tapi hanya sekedar pengakuan belaka tanpa bukti?

Seorang penyair mengatakan,

كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى

"Setiap lelaki mengaku kekasih Laila"

وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ

"Namun Laila tidak pernah mengakuinya"


Wahai Ahlussunnah...
Ada yang ingin ku katakan kepadamu.

Aku ingin kau tahu bahwa...
Begitu rindunya aku padamu.
Rindu ingin bertemu denganmu.
Rindu melihat wajahmu yang teduh,
yang menandakan tawadhdhu' nya hatimu.
Rindu ingin duduk-duduk bersama denganmu.
Rindu mendengar nasihat-nasihat dan petuah yang selalu kau berikan untukku.
Nasihat yang menenangkan hati.
Nasihat yang begitu membekas di hati.
Karena ku tahu, engkau menasihatiku dengan ketulusan hatimu.

Wahai Ahlussunnah...
Engkau selalu menasihatiku agar aku semangat dalam menuntut Ilmu.
Sehingga aku dapat mengetahui Ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat.

Engkau selalu menasihatiku agar aku mengikhlaskan ibadahku semata-mata hanya untuk Allah.
Menjauhkan riya', sum'ah, ujub, dan mengharapkan pujian manusia.
Karena itu semua adalah perusak amal.

Engkau selalu menasihatiku agar aku berusaha mencontoh sunnah Nabimu dan para sahabatnya.
Walaupun konsekuensinya terkadang hinaan dan cacian datang menghampiri, tapi aku harus sabar.

Engkau selalu menasihatiku agar aku berbakti kepada kedua orangtua ku, karena disanalah ada jalanku untuk mendapatkan surga-Nya.

Walaupun terkadang terasa berat bagiku melakukannya.
Dan masih banyak nasihat-nasihatmu yang membuat kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya bertambah.

Wahai Ahlussunnah...
Berilah aku nasihatmu selalu,
Karena tidak ada nasihat yang dapat menenangkan hatiku, menyejukkan qolbuku,
melainkan nasihat darimu wahai Ahlussunnah...

Imam Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berpesan, “Hendaklah kalian saling berpesan kepada Ahlussunnah dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang asing.”

Rindu Ku Padamu Wahai Ahlussunnah...
___________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Wasiat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam Kepada Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu

.:: Wasiat Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما ::.

Diriwayatkan dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما dia berkata, “Pada suatu hari saya pernah dibonceng di belakang Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian beliau bersabda kepadak,

يا غلام، إنّي أعلمك كلماتٍ :

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (wasiat penting)" dengarkanlah baik-baik!

احفظ الله يحفظك،

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu"

احفظ الله تجده تجاهك،

"Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu)"

إذا سألت فاسأل الله،

"Jika kamu meminta (sesuatu), maka mintalah kepada Allah"

وإذا استعنت فاستعن بالله،

"Dan jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah saja"

واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك،

"Ketahuilah! Seandainya seluruh makhluk (di dunia ini) berkumpul untuk memberikanmu sesuatu manfaat (kebaikan), niscaya mereka tidak akan mampu memberikanmu manfaat kecuali dari apa yang telah Allah tuliskan (takdirkan) untukmu"

وإن اجتمعوا على أن يضرّوك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك،

"Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu membahayakanmu kecuali dari apa yang telah Allah tetapkan atas dirimu"

رفعت الأقلام وجفت الصحف،

"Pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
[HR. At-Tirmidzi 2516 dan ia berkata, "Hadits ini Hasan Shahih"].

Dalam riwayat selain At-Tirmidzi, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

احفظ الله تجده أمامك،

“Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu)"

تعرّف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة،

"Ingatlah Allah diwaktu lapang (senang), maka Allah akan mengingatmu (menolong)mu disaat kamu sulit (sempit)"

واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبَك،

"Ketahuilah, bahwa apa yang semestinya tidak menimpamu, maka semua itu (pasti) tidak akan menimpamu"

وما أصابك لم يكن ليخطئَك،

"Dan apa yang mesti menimpamu, maka tidak akan terhindar darimu"

واعلم أن النصر مع الصبر، وأن الفَرَج مع الكرب، وأن مع العسر يسرا.

"Ketahuilah, bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, bahwa bersama musibah ada kelapangan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Hadits yang mulia ini mendorong dan mewajibkan kita (ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم) untuk senantiasa mentauhidkan Allah سبحانه وتعالى

Wajib untuk kita yakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan manfaat ataupun menolak madharat (bahaya) melainkan Allah سبحانه وتعالى semata.

Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin agar dapat mentauhidkan Allah سبحانه وتعالى , sebab Tauhid ini merupakan Hak Allah terbesar yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba.

Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bertanya kepada sahabat Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه , "Wahai Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah?"

Mu'adz pun menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui."

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ,

حق الله على العباد أن يعبدوه ولايشركوا به شيئا،

"Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah hendaknya mereka hanya beribadah kepada Allah (mentauhidkan Allah) dan tidak boleh menyekutukan Allah dengan suatu apa pun juga (berbuat syirik)..." [HR. Al-Bukhari 2856, Muslim, At-Tirmidzi 2643, Ibnu Majah 4296].

 اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu”
__________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Nasihat

.:: Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Nasihat ::.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

أكثروا ذكر هاذم اللذات : الموت ,

"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian."

فإنه لم يذكره أحدٌ فِي ضيق من العيش إلا وسعه عليه 

Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya.

وَلا ذكره في سعة إلا ضيقها عليه

"Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu."
[HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim. Lihat Shahiih Jamii’ish Shaghiir no. 1222, Shahiihut Targhiib, no. 3333].

'Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab,

أكثرهم للموت ذكرا وأحسَنهم لما بعده استعدادًا، أولئك أكياس

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”
[HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah no. 1384].

Adalah Yazid Ar-Raqasyi رحمه الله berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu?

Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”

Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa?

Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya.

Dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. [At-Tadzkirah, hal. 8-9].

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Maka, cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.
__________________
✏ Akhukum fillah, Eno Fakhrezi

Saudariku, Jagalah Hidayah Yang Telah Kau Dapat

.:: Saudariku, Jagalah Hidayah Yang Telah Kau Dapat ::.

Saudariku...
Jagalah hidayah yang telah kau dapat dengan berdoa, bersyukur dan melakukan berbagai macam amal ketaatan (amal shalih), niscaya Allah akan tambahkan hidayah tersebut.

Perbanyaklah teman-teman yang shalih, yang mereka akan selalu mengingatkanmu tentang negeri akhirat (Surga). Dan jauhilah teman-temanmu yang buruk.

Memang...
Semua kita tidak ada yang terbebas dari dosa dan maksiat.
Mungkin juga kita pernah memiliki masa lalu yang kelam.

Akan tetapi, seberapa pun kelamnya masa lalu itu, yakinlah bahwa kita memiliki Rabb Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Asalkan kita mau bertaubat kembali ke jalan-Nya yang lurus, dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan kita yang telah lalu.

Saudariku, kejarlah keridhoan-Nya, maka Dia akan menganugerahkan jannah-Nya untukmu...
___________________
✏ Akhukum fillah, Ibnu Risun حفظه الله تعالى

Adakah Di Antara Kita Yang Tidak Pernah Berbuat Dosa?

.:: Adakah Di Antara Kita Yang Tidak Pernah Berbuat Dosa? ::.

Siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa dan kesalahan?
Tidaklah ada, kecuali para Nabi dan Rasul 'alaihimush shalaatu wassalaam. Karena memang mereka dijaga oleh Allah.

Semua kita pasti pernah berbuat dosa dan kesalahan. Begitulah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ta'aalaa 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَّطَّاءٌ

"Setiap anak Adam (manusia) senantiasa berbuat salah (dosa)"

Setelah Rasulullah mengabarkan bahwa setiap manusia senantiasa berbuat salah dan dosa, beliau mengabarkan bahwa sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah ia yang bertaubat (kepada Allah).

Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat."
[Shahiih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, III/198, At-Tirmidzi, no. 2499, Ibnu Majah, no. 4251, dan Al-Hakim, IV/244, Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir, no. 4391].

Saudaraku, saudariku...
Kejarlah ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi, bahkan lebih luas dari pada itu.

Allah telah berjanji akan mengampuni setiap dosa dan kesalahan hamba-Nya sebesar apa pun dosa yang ia lakukan, asalkan ia tidak datang dalam keadaan menyekutukan Allah (berbuat syirik).

Dalam hadits qudsi, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersada, Allah subhaanahu wa ta'aalaa berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
[رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

"Wahai anak Adam! Seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, asalkan tidak menyekutukan Aku, pasti Aku mendatangi kalian dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” [HR. At-Tirmidzi, dia berkata: Hadits ini Hasan Shahiih].

Subhaanallaah...

Tidakkah kita menginginkan pengampunan dosa dari Allah?
Dia-lah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Dia tabaaraka wa ta'aalaa berfirman,

نَبِّىءْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," [QS. Al Hijr : 49].

Ketahuilah wahai saudaraku, saudariku...
Bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa bergembira apabila hamba-hamba-Nya yang berdosa mengakui kesalahannya kemudian ia meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullaah meriwayatkan sebuah hadits, dari jalan sahabat Anas bin Malik radhyallahu ta'aalaa 'anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ

"Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas."

Dan Allah subhaanahu wa ta'aalaa juga berfirman,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." [QS. Al-Baqarah : 222].
Semoga Allah subhaanahu wa ta'aalaa mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu dan yang akan datang.

Wabillaahittaufiq...
___________________
✏ Akhukum fillah, Ibnu Risun حفظه الله تعالى